Kamis, 19 November 2009

SEJARAH PERLAWANAN INDONESIA MELAWAN KOLONIALISME BELANDA

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Reaksi Kehadiran Pertama Belanda
Kedatangan orang-orang Eropa yang pertama di Asia Tenggara pada awal abad XVI merupakan awal yang menentukan sejarah kawasan ini. Para pakar sejarah mengungkapkan bangsa yang pertama kali menjajakan kakinya di daratan Asia Tenggara adalah bangsa portugis, terutama mendarat di Malaka. Pelopor penjajah Portugis yang membuka rute pelayaran baru dikenal sebagai penjelajah ulung seperti Bartolomeu Diaz yang mengitari Tanjung Harapan di tahun 487. ada juga Pasco Da Gama yang sampai ke India di tahun 1497. etelah itu penjelajah Portugis yang sampai ke Malaka pada tahun 1511 dipimpin oleh Afonso de Albuequerque.
Setelah kedatangan Portugis, barulah menyusul bangsa-bangsa Eropa lainnya, antara lain Belanda. Pendaratan pertama Belanda di Hindia Tiur dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1595. ekspedisi ini membawa awak 249 dan 60 pucuk meriam. Pada tahun 1596 de Houtman mendarat di pelabuhan, Banten. Daerah penghasil lada terbesar di Jawa Barat. Disitu oaring-orang belanda segera terlibat dalam konflik baik dengan bangsa Portugis maupun dengan orang-orang pribumi. De Houtman meninggalkan Banten dan berlayar menuju ke timur dengan menyusuri pantai utara pulau Jawa. De Houtman melakukan banyak penghinaan dan menyebabkan kerugian yang besar disetiap pelabuhan yang dikunjunginya. Di Sidayu dia kehilangan 12 anak buahnya yang tewas dalam suatu serangan yang dilakukan oleh orang-orang Jawa. Dilepas pantai Madura orang-orang Belanda membunuh seorang penguasa local pada waktu orang tersebut mendayung perahunya mendekati kapal Belandauntuk berbicara dengan mereka (Riclefs, 1999:38”).
Tentu saja tindakan-tindakan yang tidak bersahabat tersebut mendapat reaksi yang keras dari kalangan pribumi. Padahal telah diketahui sebelumnya masyarakat, masyarakat pribumi bersikap terbuka dengan siapapun apabila kerjasama antar mereka saling menguntungkan. Tetapi sebaliknya, pihak asing atau luar akan mendapat perburuan jika sikap pihak asin melakukan tindakan kekerasan.
Pada awal kedatangan Belanda, mendapat respon positif, dari pihak lokal. Bagi penduduk pribumi, kedatangan pihak luar dapat menambah keuntungan perdagangan rempah-rempah, rupanya harapan pribumi sangat berbeda dengan tujuan Belanda datang ke Indonesia. Pada bulan Maret 1602, perseroan-perseroan yang saling bersaing membentuk perserikatan Maskapai Hindia Timur, VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagne). VOC didirikan untuk melaksanakan monopoli dan menguasai perdagangan di Indonesia (Kartodirjo, 1999:71).
Tujuan VOC ini dengan sendirinya membangkitkan perlawanan pedagang pribumi yang merasa langsung terancam kepentingannya. Sikap bermusuhan bertambah kuat karena kehadiran Belanda mendorong umat Islam lebih memperkokoh persatuan untuk menghadapinya. Sistem monopoli perdagangan bertentangan dengan sistem tradisional yang berlaku, lagi pula tindakan-tindakan dengan paksaan dan kekerasan menambah kuat sikap permusuhan tersebut.

B. PerIodisasi Perlawanan Bangsa Indonesia.
1. Pada masa VOC (1602-1800)
Pada periode ini, perlawanan bangsa indonesia masih bersifat kedaerahan dengan tokoh-tokoh kerajaan yang bersifat lokal, ataupun pemimpin pemberontakan yang mayoritas dilakukan oleh umat Islam. Perlawanan bangsa pribumi terhadap VOC secara umum dapat disebabkan oleh faktoe-faktor sebagai berikut:
a. Monopoli perdagangan yang diterapkan VOC telah menyebabkan kerugian yang amat besar terhadap perdagangan yang dilakukan oleh kaum pribumi ataupun kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan banten, Goa di Makasar, Ternate di Maluku, Mataram di Jawa Tengah, Aceh dan Minangkabau di Sumatra dan beberapa kerajaan lainnya.
b. Kebijakan VOC tidak hanya memonopoli perdagangan, melainkan juga dibidang politik-pemerintahan, VOC melakukan intervensi kekuasaan kerajaan. Hal ini tentunya berimbas pada hegemoni dan kedaulatan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Bahkan dalam urusan suksesi pun, VOC memainkan peranan yang sangat besar terutama di kerajaan Mataram setelah Sultan Agung meninggal dunia.Adanya usaha-usaha sistematis untuk meminggirkan sekaligus menumpas gerakan-gerakan yang dianggap ancaman Latent bagi VOC untuk menanamkan kekuasaan di Nusantara. Pada periode VOC dikenal tokoh-tokoh anggota kerajaan yang berada di luar pusat kekuasaan seperti Trunojoyo, Untung Suropati, Pangeran Nuka dan masih banyak tokoh lainnya.
c. Sebagai bangsa yang menganggap diri lebih unggul, VOC tidak hanya menerapkan politik hegemoni dan intervensi kekuasaan, melainkan menyebarkan agama kristen sebagai bentuk misionarisme. Tentu saja kebijakan ini mendapat perlawanan yang sengit dari mayoritas pribumi yang memeluk agama Islam.
Alasan-alasan yang paling jelas dari reaksi pribumi dalam bentuk perlawanan VOC adalah eksploitasi, monopoli perdagangan dan juga kekerasan kemanusiaan yang dijalankan selama menjajah Indonesia. ciri-ciri perlawanan yang dilakukan sebagaimana yang telah disebut diatas masih bersifat kedaerahan. Pada periode ini kesadaran terhadap nasionalisme belum terbentuk sama sekali. Para penguasa lokal belum menjalin persatuan dalam melawan VOC, mereka dianggap oleh pribumi sebagai musuh karena merebut kepentingan yang sudah lama dimanfaatkan oleh penduduk pribumi (Ricklefs, 1800-1900).


2. Pada Masa Hindia-Belanda (1800-1900).
Fase perlawanan pejuang Indonesia berlanjut pada periode Hindia-Belanda, mulai 1800 sampai 1900. periode ini ditandai dengan kebangkrutan VOC pada dasawarsa terakhir abad ke-18 akibat peperangan yang bertubi-tubi dilakukan oleh pejuang Nusantara. Selain terkurasnya VOC, lembaga ini juga terkotasi oleh pejabat-pejabat kompeni yang korup, sehingga pemerintahan Belanda secara resmi membubarkan VOC pada tanggal 1 Januari 1800 (Raclefs,299:168).
Setelah VOC bubar, kekuasaan kolonial Hindia Belanda berada di tangan seorang Gubernur jenderal yang diangkat langsung Ratu Belanda. Di awal kekuasaan Hindia Belanda, Inggris sempat menancapkan kuku kekuasaannya dengan mengangkat Herman Willem Daendels ke Batavia (1808-11), sebagai seorang revolusioner dan arti-feodal, Daendels mengawali periode suram dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Dia mengebiri para penguasa lekal yang dianggapnya sebagai pegawai administrasi Eropa. Pada masanya dimulai sistem kolonialisme baru berupa pamanfaatan tenaga pribumi untuk membuat jalan raya sepanjang timur Jawa-Pamanukan sampai barat Jawa Anyer.
Pada periode ini juga dimulai sistem tanam paksa atau cultuur stelsel yang diperkenalkan oleh Gubernur Jendral Johannes Van den Bosch (1780-1844). Sang diktator ini mulai menerapkan tanam paksa tahun 1830, setelah pertempuran yang dipimpin oleh Diponegoro dapat ditumpas. Tujuan dari tanam paksa adalah memangkas devisit keuangan kolonial yang kian buruk akibat peperangan di beberapa wilayah di Indonesia.
Perlawanan pejuang pribumi pada periode ini masih bersifat lokal, namun sudah melepaskan diri dari ikatan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Mereka adal Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien dan beberapa tokoh lainnya. Kesadaran sebagai bangsa yang berdaulat belum terbentuk, namun solidaritas sosial mulai terpupuk seiring merosotnya perekonomian dan tingginya tingkat kelaparan di Jawa, Raecklefs (1999:189). Para pejuang tanpa kenal lelah melawan sistem kediktatoran yang dijalankan pemerintahan Hindia Belanda. Di satu sisi keungan kolonial membumbung tinggi, tetapi dilain pihak rakyat Indonesia kian menderita.

3. Pada Masa Pergerakan Nasional (1900-1942)
Kemelaratan yang luar biasa sampai berakibat pada kematian masal di pulau Jawa sejak tahun 1851 sampai 1870. akibat kebijakan ini, upaya menentang cuultrul stelsel mulai muncul di negeri Belanda. Para penentang tanam paksa, yakni golongan liberal mendesak pemerintahan kolonial untuk melakukan pembaharuan dengan seruan pengurangan peranan pemerintah dalam perekonomian kolonial secara drastis, pembebasan terhadap pembatasan perusahaan swasta di Jawa dan akhirinya kerja paksa dan penindasan terhadap orang-orang Jawa dan Sunda. Puncaknya, pada tahun 1860, seorang mantan pejabat kolonial. Eduard Douwes Dekker (1820-87), menerbitkan sebuah novel yang berjudul Max Havelaar dengan nama samaran “Multatuli”. Buku ini menceritakan bangsa kolonial yang bersifat menindas dan korup. Era baru masa pergerakan ditandai dengan politik etis yang dicetuskan Van Deventer di tahun 1899. ia menerbitkan artikel yang berjudul Een eereschald (suatu bintang kehormatan). Realisasi dari prinsip politik etis adalah edukasi, emigrasi dan irigasi. (Raedelefs, 215).
Setelah politik etis diberlakukan, berimplikasi pada corak dan warna perlawanan bangsa Indonesia, kaum bangsawan dan elit mulai terdidik secara barat, mereka dapat mengenyam pendidikan dan melahirkan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Wahidin Sudirohusodo, Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka Sutomo, Tjipto Mangunkusomo dan seterusnya.
Pada periode ini bentuk perlawanan terhadap bangsa kolonial sangat berbeda dengan dua periode sebelumnya. Pada masa ini, perjuangan ditekankan pada non-fisik yaitu berupa diplomasi dan strategi non-koperasi. Landasan perjuangan antar daerah sudah terjalin secara sistematis, yaitu bangunan negara, bangsa Indonesia yang merdeka. Tokoh-tokoh perjuangan di daerah mengusung tema yang sama “kemerdekaan yang sama”. Inilah landasan filosofis bangunan nasionalisme yang terbentuk dimasa pergerakan asional (Kartodirjo, 1999:271).
Santono juga mendeskripsikan ciri zaman pergerakan dilakukan dengan menggunakan surat kabar sebagai media perjuangan kaum terpelajar, seperti Sukarno menulis artikel dikoran “ Panji Indonesia” dan juga “sura rakyat” guna menyebar luaskan paham kebangsaan (Kartodirjo, 1999:100). Begitu pula, kaum terpelajar tersebut berjuang melalui organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan dan partai politik guna menyalurkan aspirasi mereka dalam berjuang.
Era ini ditandai dengan berdirinya Budi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij, Partindo, PNI dan sederet organisasi dan partai lainnya. Meskipun berbeda bentuk dan seragam organisasi, namun memiliki kesamaan tujuan.

C. Bentuk Perlawanan Bangsa Indonesia pada Masa VOC
1. Perlawanan Kerjaan Islam Mataram
Mataram mulai kontak fisik dengan Belanda pada mas Sultan Agung berkuasa. Seelah Sultan Agung meninggal pada tahun 1645, pangeran Adipati Anom naik tahta dengan gelar Amangkurat I, banyak para pejuang yang mengatasnamakan Mataram melawan frontal terhadap basis kekuatan VOC di Batavia, ataupun memperlemah kedudukannya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, seperti Trunojoyo, Adipati Unus dan Untung Suropati. Ketiga tokoh ini memperlihatkan kekuatan yang luar biasa dalam melawan kolonial Belanda.
Anehnya, keadaan iu terbalik dengan pihak penguasa Mataram. Sejak Amangkurat I berkuasa, kewibawaan Mataram kian merosot. Penyebab utamanya adalah intervensi VOC dalam menentukan suksesi raja. Tasis de Graaf dalam menghadapi kekuatan-kekuatan Mataram adalah beraliansi dengan pihak-pihak non religius. Sedangkan lawan VOC dalam masa dinasti Mataram bersatu dibawah panji kekuatan religius. Dalam menghadapi kekuatan gabungan itu, VOC menggabungkan diri dengan partai raja sehingga terbentuk aliansi yang terdiri dari kekuatan maritim dan ekonomi pada satu sisi dengan kekuatan agararis dan beras dipihak lain. (Kartodirjo, 1999:184).
Kekuatan agraris yang paling sengit dilakukan pada masa Mataram adalah ketiga tokoh tersebut. Motif perlawanan terhadap Mataram dan VOC yang menjadi sekutu dekatnya berbeda-beda. Trunojoyo, misalnya melawan kediktatoran Amangkurat kesewenang-wenangannya. Perlawanan terhadap sang raja berlanjut pada perlawanan terhadap VOC. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1675. dengan dibantu Raden Kajoran dan pasukan yang terdiri dari kasunanan Saurakarta, kesultanan Yogyakarta, Palekalaman dan Mangkunegara.
Pada tahu 1800-an, Mataram sudah tidak memiliki kekuasaan yang berarti, setelah perjanjian Giyanti pada tahun 1757. mataram hanyalah tinggal kerayan. Kedingdayean Sultan Agung sulit dijumpai lagi karena disintegrasi yang terjadi, terdiri dari Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Plelaman dan Mangkunegaran.



2. Perlawanan Kerajaan Islam Banten.
Konflik yang telah terjadi semenjak kedatangan Belanda diperairan banten, diperparah dengan monopoli perdagangan dan tindakan penyerangan terhadap kekuasaan Banten. Gerakan perlawanan terhadap VOC kian gencar sejak tahun 1676 sampai 1684, setelah Mataram melemah (Kartodirjo, 1999:204). Banten menjadi tempat pengungsian bagi penduduk Mataram setelah terjadi pergolakan. Gerakan melawan VOC disitu digalakkan oleh semangat arti kafir yang digariskan oleh para pemimpin agama, antara lain Syekh Yusuf dari Makasar. Fakta yang menghambat gerakan tersebut adalah di Banten timbul perpecahan antara Sultan Agung Tirtayasa dan anaknya Sultan Haji.
Politik Sultan Agung berkecenderungan arti-kumpeni dan lebih pro-Inggris salah satu tuntutan lama ialah bahwa Cirebon adalah bagian dari Banten dan bukan dari Mataram. Perlawanan Sultan Agengng terhadap Sultan Haji yang dibantu oleh VOC terjadi 27 Februari 1682. sultan Ageng dapat dipukul mundur, dan berakibat pada menguatnya kedudukan VOC di Batavia. Perlawanan tidak berhenti disitu, dengan dibantu oleh Pangeran Purbaya, Suriadi Wanangsa dan Syeikh Yusuf beserta ribuan bangsa Makasar. Pada akhirnya Sultan Ageng dapat dihentikan dengan membujuknya masuk ke istana Banten, Surosowan oleh sultan Haji. Tetapi perjuangannya masih diteruskan oleh Syeikh Yusuf sampai tahun 1683.

3. Perlawanan Goa-Makasar.
Perang yang digaungkan oleh Goa-Makassar dipimpin oleh Sultan Hasanudin sejak tahun 1660-1669. selain perlawanan disebabkan oleh kebijakan monopoli VOC yang bertentangan dengan prinsip sistem terbuka yang dijalankan orng-orang Makassar, ada faktor-faktor khusus lainnya yaitu:
a. Pendudukan banteng pa’ Nakkukang oleh VOC dianggap sebagai ancaman.
b. Peristiwa De Walvis pada tahun 1602, waktu meriam dan barang muatannya disita oleh pasuka Karaeng Tallo.
c. Peristiwa kapal Leeuwin (1664) yang kandas dipulau Dan Duango dimana awak kapal dibunuh (Kartodirjo, 1999:99).

Sultan Hasanudin mempersiapkan pasukannnya dari Bima, Sumbawa, dan Betung, selain penduduk Makassar. Jumlah pasukan mencapai 10.000-18.000 orang. Perang mulai surut setelah terjadi perjanjian antara Sultan Hasanudin dengan pihak VOC yang diawali Speelman pada tanggal 6 Nopember 1669. peperangan terhadap VOC yang dipimpin oelh Sultan Hasanudin adalah yang terbesar sepanjang sejarah di Makassar.

4. Perlawanan kerajaan Ternate-Tidore.
Perlawanan terhadap VOC di Ternate-Tidore pertama kali terjadi ditahun 1643 setelah VOC melakukan hongi-tochten (hongi:bahasa Ternate berarti armada atau angkutan kapal laut). VOC melakukan penerbangan pohon cengkeh dan pala yang berlebihan. Hal ini ditentang habis-habisan oleh pihak kerajaan. Pimpinan perlawanan ada ditangan kakiali sejak tahun 1634. sedangkan pihak kerajaan, perlawanan terhadap VOC dipimpin Raja Hamzah (Kartodirjo).
Perlawanan masyarakat Maluku mencapai puncaknya ketika pangeran Nuku sejak 1780-1805 melakukan perang terhadap VOC. Bahkan pasukan Nuku dapat membunuh komandan Belanda Van Dijk. Di wilayah Tidore, pengaruh Nuku kian menguat karena keberpihakannya terhadap kepentingan rakyat.

5. Perlawanan Yogyakarta.
Perlawanan terhadap VOC dilakukan oleh pangeran Mangkubumi yang resmi bergelar Hamengkubuwono I pada tahun 1757. meskipun idak sebesar Mataram, namun perlawanan kerajaan Yogyakarta cukup merepotkan VOC.

6. Perlawanan Kerajaan Surakarta.
Kerajaan Surakarta adalah pecahan dari Mataram. Dalam sejarah Indonesia, Surakarta Surakarta tidak segarang daerah lainnya dalam melawan VOC. Meskipun demikian, banyak tokoh terkemuka seperti Mas Said atau Mangkunegaran I (Kartodirjo, 1999:234).
7. Perlawanan Kerajaan Aceh.
Pejuang besar dari Aceh sekaligus raja terbesar adalah Sultan Iskandar Muda pada akhir abad ke-17, yaitu 1607-1636. kerajaan Aceh adlah wilayah yang tidak dapat ditaklukan sampai abad ke-19. wilayah ini barangkali adalah contoh dari kuatnya perjuangan rakyat, panglima dan ulama terhadap VOC. Tokoh-tokoh besar pasca sultan Iskandar Muda adalah Cut Nyak Dien, Teuku Cut Ditiro dan beberapa tokoh lainnya.
Perlawanan Aceh terhadap VOC adalah bentuk resistensi terhadap hak monopoli VOC terhadap perairan selat Malaka ebgai jalur sutera-lintas perdagangan dunia. Pihak VOC sangat merasakan kerigian yang luar biasa akibat lamanya peperangan yang harus dijalani VOC.

D. Perlawanan Tokoh-Tokoh Pada Masa VOC
1. Perlawanan Trunojoyo
Trunojoyo adalah anak penguasa Madura yang masih memiliki garis keturunan ke-11 Majapahit Brawijaya. Ayahnya adalah Raden Demang Melayakusuma atau Demang Melaya. Ia dilahirkan pada tahun 1649. kakaknya adalah Cakraningrat I, bawahan Amangkurat I, raja Mataram. Ayahnya dibunuh oleh Amangkurat I, ketika berusia 7 tahun. Hal ini memberi kesan tertentu terhadap kekuasaan mutlak Amangkurta I (Soetjipto, 1973:4-5).
Penyebab utama perang Trunojoyo adalah perlawanan terhadap Amangkurat I yang sangat kejam, diktator dan bertindak sewenang-wenang. Bahkan kakeknya, pangeran Pekik dibunuhnya. Tindakan Amangkurat I ini mendapat dukungan VOC, sedangkan Trunojoyo mendapat dukungan Raden Kajoran (Soetjipto, 1973:7).pihak VOC mengambil kesempatan ini untuk memperluas basis kekuasaannya di Jawa Tengah dengan mengadakan perjanjian terlebih dahulu yang sangat merugikan pihak Mataram.
VOC dibawah Admiral Speelman berusaha menyerang kantong-kantong pasukan Trunojoyo dipesisir Jawa Timur dan Madura dan jatuh ketangan kumpeni. Trunojoyo mengundurkan diri ke Kediri, ini terjadi pada tahun 1677. sebagai gerakan anti-kafir, perlawanan Trunojoyo mendapat dukungan yang luas, dari wangsa Kajoran, wangsa Giri dan lapisan masyarakat kecil.
Sepeninggal Amangkurat I, pangeran adipati Anom menggantikan kedudukan ayahnya sejak 1677. dengan gelar Amangkurat II, ia meminta dukungan VOC dengan mengadakan perjanjian pada tanggal 19 Oktober 1677 yang sangat merugika Mataram, bahkan lebih parah dibandingkan sebelumnya.
Keadaan ini tidak bisa dibiarkan oleh Trunojoyo. Ia melakukan serangan opensif ke daerah pesisir, Surabaya, Giri, Gresik, Sedayu dan Tuban kembali masuk kekuasaannya. Trunojoyo mendapat perlawanan yang sengit dari VOC dan juga mendapat pertentangan dari Martalaya dari Tegal dan Mertapura dari Jepara.
Keduduka Trunojoyo di Kediri kian melemah, setelah pos di Jagaraga (Kediri) dan Berbek (Madiun) diserang oleh kumpeni yang dipimpin Antonie Hurdt pada tahun 1678. trunojoyo kian tersudut, setelah perundingan dengan VOC gagal disepakati. Begitu juga putera Panembahan Giri memihak Sunan Amangkurat II. Trunojoyo berhasil meninggalkan keratonnya terlebih dahulu. (Kartodirjo, 1999:199).
Dengan jatuhnya Kediri ketangan VOC maka strategi pertahanan Trunojoyo dipusatkan ke daerah pegunungan di kompleks Kelud dan Penanggungan. Pada tanggal 8 September 1679 tempat itu mulai diserang kumpeni dibawah Arung Palaka. Trunojoyo terdesak pertahanannya dan terus mengundurkan diri ke pertahanan di Ngaratadan Ngantang. Namun bala bantuan kumpeni dibawah Couper dapat merebut benteng itu. Ia masih dapat menyelamatkan diri dan mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, Gunung Limbangan.
Ditengah keterdesakan ini Trunojoyo masih membujuk Sunan agar memutuskan aliansinya dengan VOC, agar rakyat Jawa tidak dinasranikan. Namun ajakan ini ditolak Sunan. Dengantaktik pendekatan personal sebelum pengunaan senjata, VOC mengepung benteng Trunojoyo sehingga menimbulkan kelaparan dan terjatuhny moral pasukan Trunojoyo yang masih 3000 orang lagi. Sunan ingin Trunojoyo ditangkap hidup-hidup agar dapat ditawan Sunan. VOC dapat menangkap, atau Trunojoyo beserta pasukannya menyerahkan diri pada tanggal 26 Desember 1679. Trunojoyo kemudian diserahkan oleh VOC kepada Sunan untuk menepati sumpahnya kri Kyai Balabar, tidak akan diberi sarung besar sebelum dipakai untuk menusuk dada Trunojoyo. Pada tanggal 2 Januari 1700. trunojoyo dieksekusi dengan ditikam dadanya oleh Sunan. Inilah akhir dari perlawanan Trunojoyo melawan VOC dan bangsanya sendiri yang bersekongkol dengan pihak kumpeni (Kartodirjo, 1999:200-202).

2. Perlawanan Untung Suropati
Untung Suropti adalah anak angkat dari perwira kumpeni Belanda bernama kapten Van Baber, pada usia 7 tahun. Kemudian ia dijual hartawan Belanda Edeler Moor. Sampai usia remaja ia diasuh dan dibesarkan dalam tradisi Eropa. Untung adlah gelar yang diberikan Edeler Moor karena budak ini mendapat penghargaan yang lebih tinggi dari budak-budak lainnya. Untung ditangkap atas perintah Edeler setelah terjadi pernikahan ats dirinya dengan puteri Edeler sendiri puteri Suzanne (Soekiman, 1973:27).
Berlatar belakang rakyat jelata tidak membuat Untung Suropati kehilangan Kharisma. Kemahiran Untung dibidang sosial, taktik dan kepemimpinan diperoleh selamam tinggal dirumah Edeler. Untung Suropati (disingkat US) mulai berjuang ketika ia meloloskan diri dari penjara bersama napi di Batavia. Di waktu bersamaan VOC terfokus pada penumpasan gerakan Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya. Dengan senjata api hasil rampasan dari penjaga penjara benteng, dan dibantu oleh banyak para budak yang bersimpati kepadanya, mereka mengadakan perlawanan bersenjata di kota Batavia yang kemudian di malam hari bertahan dipinggiran kota.
Untuk meredam gerakanUS ini, kumpeni melakukan pendekatan dengan menawarkan posisi perwira dengan pangkat letnan. Tawaran diterima sebagai taktik mendapatkan persenjataan. Setelah mendapat perbekalan yang cukup, US menuju Mataram yang pada saat itu diperintah oleh Amangkurat II. Di Mataram untuk disambut dengan tangan terbuka dan diberikan, kampung sebagai benteng tempat tinggal. Pada periode Mataram ini, US dapat membunuh seorang komisaris VOC, kapten Tack di Kertasuro. Pada tanggal 8 Februari 1686, pasukan Tack diserang oleh pasukan US, takti dan strstegi pendudukan Kraton Mataram oleh US sangat jitu, sehingga menyebabkan terbunuhnya kapten Tack, kapten Grepink dsn kapten Van Eygel (Soekiman, 1973:39). Pada peristiwa besar ini, pasukan kumpeni yang terbunuh sampai 80-an orang, sedangkan dipihak US ada 30-an orang.
Kehancuran kumpeni di Surakarta menggegerkan pihak kumpeni di wilayah lain seperti Jepara dan Batavia. Guna menumpas pemberontakan US itu, Dewan Tertinggi kumpeni di Batavia mengirim pasukan sebanyak 800 serdadu. Pimpinan dibawah Alberet Sloot. Sampai pada pemerintahan Sunan Mas sebagai pengganti Amangkurat II, US masih berjuang melawan kumpeni, perjuangan Untung Suropati berakhir di Pasuruan ketika benteng pertahanannya dapat ditaklukan pada tanggal 28 September 1706, US luka berat yang berakhir dengan gugurnya sang pemberani pada tanggal 12 Oktober 1706 setelah berjuang selama 20 tahun lebih (Soekiman, 1973:51).

3. Gerakan Syekh Yusuf.
Syekh Yusuf adalah ulamam kelahiran Makassar yang mengabdi pada raja Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Perjuangan Syekh Yusuf dengan jumlah pasukan 1500-2000 orang merepotkan pasuka kumpeni. Dengan metode gerilya, ia menerobos rimba raya menuju selatan untuk menghindari pasukan kumpeni dibawah pimpinan Van Happel. Banyak penguasa daerah memihaknya seperti Yuda Menggala, Tumenggung Sukapura dan pangeran Kidul. Diwilayah Cintadui, kumpeni menyerang habis-habisan pasukan Yusuf yang menyebabkan ia terluka, meskipun dapat melarika diri (kartodirjo, 1999:208).
Cukup lama Syekh Yusuf bersembunyi di Mandala Lereng Gunung Cernci. Berdasarkan pesan lewat barang istrinya, kumpeni mengirim utusan untuk menjemputnya dan menerima penyerahannya ini terjadi pada tanggal 16 Desember 1683. setelah itu, ia dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan sampai meninggal dunia (Kartodirjo, 1999:208).

4. Perlawanan Pangeran Nuku.
Asal mula pergolakan yang meliputi seluruh daerah Maluku dan dan melibatkan sebagian dari Irian berkisar pada pengertian tahta di kerajaan Tidore. Sepeninggal Sultan Gaizira pada bulan April 1780 timbul gagasan pada kumpeni untuk memasukan Tidore ke dalam wilayahnya dengan mengangkut Pata Alam sebagai Sultan. Tentu saja kebijakan ini ditentang oelh pangeran Nuku dan saudaranya Kamaluddin.
Kedudukan Nuku diperkuat dengan pengangkatannya oleh bangsa Papua sebagai Sultan dengan gelar Sri Maha Sultan Amir Muhammad Saifuddin Syah. Dari basis yang kuat itu Nuku melakukan serangan terhadap Seram yang hendak direbutnya dari kekuasaan Ternate. Kumpeni pun diserangnya yang menyebabkan Van Dick terbunuh dan semua alat senjata dirampas. ( Kartodirjo, 1999:268).
Perjalanan Nuku mengalami pasang surut, dia terpaksa berpindah-pindah kedudukan, sutu strategi gerilya yang cukup menyulitkan lawannya. Pada tanggal 12 April 1797 angkatan laut Nuku yang terdiri dari 79 kapal dan sebuah kapal Inggris dapat menaklukan Tidore. Ia memerintah Tidore sampai meninggalnya pada tanggal 14 Nopember 1805. (Kartodirjo, 1999:271).

E. Bentuk Perlawanan Pada Masa Hindia Belanda.
1. Perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Perang Diponegoro merupakan pergolakan terbesar yang terakhir dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Sampai selesainya perang tersebut diperkirakan yang gugur kurang lebih dua ratus ribu orang, sedang yang mengalami penderitaan berjumlah sepertiga penduduk Jawa waktu itu, kurang lebih 2 juta orang. (Kartodirjo, 1999:380).
Diponegoro adalah putra Sultan Yogyakarta, Hamengkubuwono III (sultan raja) dari seorang ibu yang berasal dari rakyat kebanyakan. Dijanjikan akan diangkat sebagai raja Yogyakarta, tetapi terhalang oleh sistem yang ada sehingga keluar dari kehidupan istana yang serba matrealistis. Sebagai gerakan misianisme dan gerakan jihad massa rakyat berada dibelakangnya.
Sebab yang meledakan peang ialah propokasi yang dilakukan penguasa Belanda seperti merencanakan pembuataan jalan menerobos tanah p. Diponegoro dan membongkar makam keramat. Sebagai protes “patok-patok” untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengantombak. Hal ini membuat marah kumpeni dari residen Smissaert setelah perundingan gagal dengan pihak Diponegoro yang diwakili P. Mangkubumi. Diponegoro mulai pindah dari Tegalrejo ke Selarong guna menghindari penangkapan dari pihak kumpeni.
Dengan dibantu Kyai Maja dan Sentot Prawiradirja, p. Dioponegoro mengepung Yogyakarta agar terjadi kelaparan. Kumpeni hanya bertahan dibenteng Vredenburg yag hanya terdiri dari 200 orang. Yogya mulai diserang dengan dahsyatnya sehingga Sultan Menal pada tahun 1826, Plered dan Lengkong dapat dikuasai oleh Sentot. Perang ini memakan korban yang sangat besar.
Dalam tahun 1827 pihak Belanda memperkuat diri dengan menjalankan benteng stelsel dan menyerahkan bala bantuan dari negri Belanda sekitar 3000 orang. Prinsip benteng stelsel adalah setiap daerah yang dikuasai, didirikan benteng yang saling dihubungkan dengan jalan sehingga komunikasi dapat diselenggarakan dengan mudah. Sehingga daerah operasi Diponegoro hanya antara sungai Praga dan Bagawanta.(Soemaatmodjo, 1973:123).
Pada tahun 1827 itu juga Kyai Maja bersedia berunding dengan Belanda. Tindakan K. Maja merupakan tamparan bagi perjuangan Diponegoro. Maja dibuang ke Manado pada tahun 1828. sedangkan Sentot masih berjuang dan meneruskan perang di Banyumas. Pada awal tahun 1829, P. Diponegoro menyatakan kesediaannya untuk berunding dengan pihak kumpeni yang diwakili Jendral De Kock pada bulan September 1829 P. Mangkubumi menyerah dan diikuti Sentot pada bulan Oktober 1829.
Pada bulan Februari 1830 perundingan antara p. Diponegoro dan de Kock dimulai yang kemudian ditunda karena Diponegoro tidak bersedia berunding selama bulan puasa. Waktu merayakan Idul Fitri, 28 Maret 1830. Pangeran Diponegoro diundang ke rumah residen de Kock untuk meneruskan perundingan. Karena tumtutan dipertahankan, maka akhirnya Diponegoro ditawan dan diantar ke Semarang untuk selanjutnya lewat Batavia untuk dibuang ke Manado. (Kartodirjo, 1999:384).

2. Perlawanan Tuanku Imam Bonjol (1819-1832).
Perang ini dikenal dengan perang padri, yaitu perang yang dilakukan oleh gerakan puri fikari keagamaan terhadap adat masyarakat Minangkabau yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Pada awalnya tuanku Imam Bonjol (disingkat:TIB) yang dipengaruhi gerakan Wahabiah hanya berhadapan dengan tokoh adat lokal, namun menjadi meluas dengan berhadapan pada pihak Belanda.
Pusat gerakan revivalisme adalah Bonjol atau Alam Panjang. TIB dalam memimpin gerakan dibantu oleh Tuanku Mudik Padang dan Mansiangan. Belanda lama-kalamaan sadar bahwa pada hakikatnya gerakan itu tidak hanya mempertahankan kepentingan agama akan tetapi juga melakukan perlawanan terhadap penetrasi kolonial, sebagai ancaman terhadap kemerdekaan mereka. Alasan inilah yang membuat Belanda perlu melakukan intervensi kalau perlu dengan pertempuran.
Pasukan paderi melakukan serangan ke Sumawang, Sulit Air, Rau, Enam Kotu dan Tanjung Alam juga ke Tanah Datar dan Natat.di tahun 1820, satu kompi Belanda dapat dihancurkan. Pasukan Paderi mulai pecah ketika para pemuka agama seperti Mansiangan dan Tuanku Raja Muning berdamai dengan Belanda. Pada tanggal 15 Nopember 1825 tokoh-tokoh agama mengakui kekuasaan Belanda. (Kartodirjo, 1999:380).
Perlawanan TIB dapat diredam setelah benteng Bonjol dikuasai pada taggal 21 September 1832. peperangan benar-benar berakhir setelah Tuanku nan Alahan menyerah kepada Belanda pada tanggal 30 Oktober 1832. peperangan yang sangat lama ini mengakibatkan kerugian yang amat besar dipihak Belanda. (Kuntowidjojo, 1973:89).

3. Perang Banjar masin
Tokoh perang pada perang Banjar adalah pangeran Antasari. Ia menghimpun kekuatan sebesar 3000 orang pada tahun 1859. dengan serentak dilancarkannya serangan-erangan terhadap pos Belanda. Mertapura diduduki, pos Belanda di Pengaron dikepung. Onderneming Belanda di Gunung Jabuk diserbu. Pegawai-pegawai Belanda semua di bunuh. Pertambangan di Kalongan mengalami nasib serupa. Seorang Belanda di Tabanio dibunuh rakyat penginjil di Tangoahan dan Buntasjuga terbunuh. (Soeroto, 1973:70).
Belanda yang menyadari situasi makin genting cepat-cepat mendatangkan bala bantuan. Pada tanggal 29 April 1859 kolonel Anderson dan pasukannya mendarat di Banjarmasin, pimpinan militer menyatakan kerajaan Banjar dinyatakan dalam keadaan perang.
Mertapura kembali diduduki Belanda. Tetapi direbut kembali oleh pasukan Antasari yang dipimpin Demang Lehman. Pertempuran juga terjadi di Muning yang dipimpin Sultan Kuning tetapi dapat dilumpuhkan oleh kumpeni dibawah pimpinan mayor Verspijk. Begitu juga pasukan Tumenggung Suropati dapat melumpuhkan Belanda.
Perlawanan pangeran Antasari berakhir pada tahun 1883 ,tetapi dilanjutkan oleh putranya Gusti Moh. Seman. Perjuangan benar-benar terhenti setelah beliau gugur di Medan pertempuran pada 14 Februari 1904(Soeroto, 1973:198).

4. Perang Aceh (1873-1912).
Perang Aceh adalah perlawanan yang paling sengit dan lama dalam sejarah kolonial Belanda. Perang ini juga disebut perang rakyat oleh karena melibatkan seluruh rakyat Aceh yang secara aktif membantu operasi perang. Apalagi semangat perjuangan diperkuat oleh idiologi. Perang sabil sepanjang perang berlangsung.
Pertempuran dahsyat dimulai pada taggal 5 April 1873 dengan kekuatan 3000 tentara dengan menduduki masjid, tetapi direbut kembali oleh pasukan Aceh karena bertahan sangat kuat, seranganditunda kembali sambil menunggu bantuan dari Batavia. Pada bulan November 1873 dikirim ekspedisi kedua dibawah Van Swieten dengan jumlah pasukan 13.000 orang penyerbuan kali ini berhasil menduduki pusat kerajaan Aceh. (Kartodirjo, 1999:387).
Dengan pusat perjuangan ditangan Sultan Muhammad Daud, perlawanan dibantu oleh pejuang besar seperti panglima Polim, Teuku Umar dan istrinya Cut Nyak Dien. Pada tahun 1898, pemimpin perang dibawah Teuku Umar. Belanda dipimpin Van De Hetden dan Van De Heutz. Kesulitan yng dialami Belanda dalam menaklukan Aceh, mengubah strategi perang dengan pendekatan baru. Maka diutuslah Snack Hongronye yang menyamar sebagai mualaf untuk mempelajari struktur sosial dan adat Aceh.
Pendekatan ini ternyata berhasil. Perlawanan rakyat Aceh berhanti, pada tanggal 26 Nopember 1912 ketika tempat persembunyian Sultan ditemukan, lalu ditawan. Panglima Polim berhasil meloloskan diri, baru pada tanggal 6 September 1913 ia menyerahkan diri. (Polim, 1996:11).

F. Bentuk perlawanan pada masa pergerakan Nasional
1. Perjuangan Jalur Reformasi.
Selama kurun waktu 1600 tahun sampai 1900, periode kelam sejarah yang penuh heroik telah dijelaskan diatas. Perlawanan fisik dengan mengandalkan kharisma pemimpin dan jumlah pasukan telah memakan korban yang tak terhingga besarnya. Walaupun perlawanan terhadap kumpeni hampir terjadi di Seantaro Nusantara, namun kekutan rakyat dapat dipatahkan dengan strategi perang modern yang dijalankan Belanda. Dengan politik pecah belah (Devide et impra) dan strategi perang Benteng Stelsel, semua pergolakan dapat diredam.
Mengacu pada kondisi demikian, era baru perjuangan rakyat Indonesia mengalami pegeseran, dari perlawanan fisik kepada bentuk pelawanan diplomasi. Perjuangan melalui jalur diplomasi adalah implikasi positif yang dimanfaatkan bangsa Indonesia dari hasil politik etis. Kebijakan Belanda yang menyadari pula kekeliruannya sejak periode VOC dan Hindia Belanda, mulai mengubah paradigma kolonialisme dengan memberi kesempatan bersyarat kepada pribumi yang berkedudukan tinggi untuk mengenyam pendidikan di tingkat Hogelee Indische School (HIS), Kweek School (sekolah rakyat dan HBS).
Hasil didikan inilah yang melahirkan para intelektual bangsa yang mulai tumbuh akan nilai patriotisme dan nasionalisme “Indonesia Merdeka”. Tokoh-tokoh pergerakan yang aktif menjalankan diplomasi politik daripada peperangan bermunculan seperti Wahidin Soedirohusodo, Soetomo, Soekarno, M. Yamin, Abikoesno, Hatta, Hos Cokroaminoto dan sederet nama pejuang lainnya.
Ciri-ciri perjuangan diplomasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tidak mengandalkan aksi masa, melainkan kecerdasan tokoh dalam berbicara.
b. Penggunaan senjata atau meriam sudah tidak dipakai, melainkan senjata pena dan orasi.
c. Pejuang diplomasi tidak membutuhkan pasukan yang benar, melainkan wadah organisasi dengan anggota yang terbatas.
d. Taktik perang gerilya ditinggalkan dan berani berlokasi di pusat kekuasaan.

Selama priode pergerakan nasional banyak sekali dijumpai mosi-mosi terhadap lembaga Volksread (dewan rakyat) ataupun kepada Hindia Belanda. Petisi Soetarjo pada tahun 1918, mosi Thamrin tentang penggunaan istilah keindonesiaan, mosi wiwoho terhadap Volksread yang harus bersikap demokraits dan juga memorandum GAPI (Gabungan Politik Indonesia) tentang konstruksi ketatanegaraan Indonesia (Kkartodirjo, 1999:186-194).
Begitu juga diplomasi yang dilakukan Soekarno sebagai “ Indonesia Menggugat, atas penangkapan para pemimipin PNI (Partai Nasional Indonesia), yaitu Soekarno, Maskoen, Gatot Mangkopradjo,dan Soepriadinata. Penangkapan para pemimpin PNI juga mendapat reaksi luas dari pemimpin PI (Perhimpunan Indonesia), Moh. Hatta dinegeri Belanda. Kritikan serta mosi terhadap tindakan refresif pemerintah Hindia Belanda adalah bentuk diplomasi baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dimasa VOC dan pemerintahan Hindia Belanda abad 19.

2. Pembentukan Partai Politik, Organisasi Sosial dan Aksi Massa.
Selain metode perjuangan yang menekankan pada aspek dipomasi, maka hal tu pararel dengan bentuk perjuangan melalui wadah organisasi dalam skala yang berbeda. Organisasi pertama diantara bangsa Indonesia yang disusun dengan bentuk modern dan yang besar artinya ialah Budi Utomo (Pringgodigdo. 1949:11). Organisasi ini didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Dr. Wahidin Soedirohusodo, seorang dokter lulusan STOVIA. Setelah itu, berturut-turut berdiri Srekat Islam (SI) oleh Hji Samanhudi di solo tahun 1911, Perhimpunan Indonesia (1912), PKI (Partai Komunis Indonesia) yang cikal bakal dari ISDV oleh Snerlieet pada tanggal 23 Mei 1920, PNI (Partai Nasional Indonesia) oleh Soekarno pada tanggal 4 Juli1927 di Bandung, PSI (Partai Sarekat Islam) yang merubah nama menjadi PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) oleh Cokroaminoto pada tahun 1928, Parpindo (Partai Persatuan Indonesia) oleh M. Yamin pada tanggal 21 Juli 1939 di Jakarta, PPKI pada tahun 1928, dan sederet organisasi lain.
Di bidang keagamaan, bermunculan organisasi keagaman seperti Muhammadiyah (1912), Nahdlotul Ulama (1926), Al-irsyad (1909), Persatuan Islam (1926) dan beberapa organisasi lainnya. Begitu pula organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan seperti Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Pasundan, Jong Java, Jong Sumatranen Bond dan beberapa lainnya.
Kemunculan organisasi-organisasi di bidang politik, sosial dan keagamaan adalah suatu fakta historis yang tak terbantahkan dalam pembentukan asas kebangsaan bernama Indonesia. Kegiatan-kegiatan yang diorganisasikan secara rapi sangat efektif guna mencapai cita-cita bersama. Pada dekade terakhir sebelum kemerdekaan , perjuangan yang dijalankan dalam sistem organisasi mengerucut pada perjuangan meraih kemerdekaan. Semua tokoh-tokoh yang berasal dari Jawa dan Minangkabau meninggalkan sifat kedaerahan dan memasuki arena percaturan politik nasional.
Meskipun terjadi pertentangan antar idiologi dan jenis gerakan, apakah itu nasionalisme versus religius, komunisme versus gerakan keagamaan atau antara nasionalisme versus komunisme, tidak dapat dihilangkan hasrat bersama agar terbebas dari penjajahan kolonial Belanda.
Selain itu, banyak pula tokoh yang ditangkap oleh pihak Belanda dengan alasan subversif, seperti Soekarno, Hatta dan Syahrir. Tetapi sel-sel jaringan gerakan tidak terputus. Alasannya adalah proses kaderisasi yang dilakukan oleh organisasi politik sebagai usaha menanamkan semangat kebangsaan.
Ciri-ciri utama perjuangan melalui partai atau organisasi adalah gerakan mobilisasi massa tanpa persenjataan. Aksi massa pada umumnya dilakukan oleh kaum buruh atau pekerja pabrik, Jawatan Kereta Api, buruh perkebunan yang menjadi basis gerakan rakyat. (Pringgodigdo, 1949:48). Parati politik yang paling menonjol dengan gerakan aksi massa dalah PKI dan PNI.
Pada kasus PKI, mobilisasi massa digerakan oleh PKI terhadap para pekerja kereta api pada bulan Mei 1923 atas saran Semaun diadakan pemogokan massal pagawai kereta api. Jelas tindakan tersebut adalah propaganda yang hebat dalam perlawanan terhadap kolonial. Akibatnya banyak tokoh-tokoh sentral PKI seperti Semaun. Tan Malaka yang dibuang ke luar negri atau melarika diri dari kejaran Hindia Belanda. PKI sebagai partai radikal revolusioner tentunya membutuhkan agitasi rakyat sebagai model perlawanan. (Pringgodigdo, 1949:38).
Tak dapat disangkal bahwa motor penggerak utama aksi massa adalah Soekarno, pendiri PNI pada tanggal 4 Juli 1927. sebagai seorang orator ulung, ia adalah seorang misianisme yang mampu menggerakan ribuan rakyat guna menanamkan kesadaran sebagai bangsa yang bersatu. Pengaruh PNI meluas berkat keahlian Soekarno membakar semangat rakyat. Kegiatan yang membahayakan itu diperingatkan oleh Gubernur Jendral agar dihentikan. Tetapi peringatan pertama tak dihiraukannya, maka pada teguran kedua,keempat tokoh PNI, termasuk Soekarno ditangkap (Kansils Julianto, 1986:36).
Oleh karena bertujuan mobilisasi massa, maka idiologi PNI adalah Marhaenisme, prinsip menolong diri sendiri dan non-kooperasi. Guna memeperkuat perjuangan Soekarno dengan beberapa kawan seperjuangan mendirikan “radicale consentratie, kharisma, suara yang besar dan nada mengecam kepada pihak penjajah menyebabkan ia adalah tokoh yang dijebloskan ke dalam penjara dan dibuang ke Bengkulu. (Kansil&Julianto, 1986:39).




3. Perjuangan Lewat Jalur Modernisasi pendidikan.
Sejajar dengan perkembangan perekonomian pada satu sisi dan perluasan bidang pemerintahan beserta administrasi dan pelayanannya dipihak lain, timbullah kebutuhan akan tenaga yang profesional dibidangnya. Sekedar memenuhi tuntutan zaman demikian, pemerintah kolonial secara lambat laun mendirikan sekolah-sekolah, mula-mula terbatas sampai tingkat rendah saja dan baru dasawarsa abad 20 dibuka tingkat menengah dan tinggi (Kartodirjo, 1999:75).
Sekolah yang dibangun pemerintah kolonial terdapat empat kategori: (1)Sekolah Eropa yang sepenuhnya memakai model sekolah negri Belanda;(2)sekolah bagi pribumi yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar;(3)sekolah bagi pribumi yang memakai bahasa daerah daerah/pribumi ;(4)sekolah yang memakai sistem pribumi(Kartodirjo, 1999:75).
Sekolah tingkat pertama adalah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sedangkan tingkat atas adalah AMS (Algemene Middelbare School), sekolah kejuruan yang terlebih dahulu adalah sekolah guru (Kweek School). Ada pula sekolah untuk calon pegawai, OSVIA. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis didirikan Sekolah Dokter Djawa yang dikenal dengan STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen). Disamping itu, terjadi pula perkembangan dalam sistem pengajaran eropa mulai dari ELS (Europesche Lagere School), HBS (Hogere Burger School), Gymnasium untuk pendidika umum, dan Europesche Kweekschool. Untuk perguruan tinggi didirikan THS (Technische Hoge School) di Bandung pada tahun 1922, GHS (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta tahun 1927, dan RHS (Rechts Hoge School) di Jakarta 1924. pada tahun 1941 dibuka Landbown Hoge School dan Faculteit de Letteren di Jakarta (Kartodirjo, 1999:79-80).
Selain lembaga-lambaga pendidikan yang didirikan kolonial, bangsa pribumi juga tergerak untuk memajukan pendidikan sebagai wujud nyata perjuangan. Dua organisasi terkemuka yang cocern terhadap kemajuan pendidikan untuk kaum pribumi adalah perguruan Muhammadiyah, dan taman siswa dengantokohnya Ki Hajar Dewantoro. Maka tak aneh apabila jumlah dari kalangan pribumi pada tahun 1935 adalah 71,241 yang meliputi semua jenjang pendidikan ini adalah pencapaian luar biasa yang sebelumnya tak pernah terwujud sama sekali.
Implikasi dari modernisasi pendidikan adlah lahirnya tokoh-tokoh pergerakan nasional yang berjuang atas nama bangsa Indonesia. Selain kesadaran nasionalisme mulai terbentuk, juga banyak lulusan sekolah tersebut menduduki pos-pos pegawai pemerintahan mobilitas vertikal dan gerakan nasionalisme vertikl dan gerakan nasionalisme berjalan efektif yang mampu memaksa pemerintahan kolonial merealisasika tuntutan kaum pribumi. Seperti berdirinya dewan rakyat (Volslernaad).
Meskipun kesempatan mengenyam pendidikan hanya untuk bangsa Eropa dan bangsawan pribumi namun tidak menutup kemungkinan adanya kesempatan bagi anak pegawai rendahan yang hanya berpenghasilan di bawah f 100 sebulan. Pada tahun 1928 sekolah-sekolah rendah Barat diisi oleh 81.000 orang anak bumiputera, diantara mereka itu kira-kira 11.400 oran adalah anak yang orang tuanya berpenghasilan di atas f 100. ini berarti hampir 70.000 orang adalah anak-anak pegawai rendahan atau bahkan dari kalangan petani (Kartodirdjo, 1999: 219).
Dalam sistem pengajaran Eropa dan Belanda telah diusahakan untuk mengikuti kurikulum dan tingkat pelajaran di negeri Belanda bagi sekolah-sekolah yang sejenis. Sehingga dengan sistem persamaan dapat meneruskan pelajarannya ke negeri Belanda. Oleh karena kesempatan belajar ke Belanda sangat langka pada awal abad ke-20, maka jumlah pelajar yang melanjutkan studinya ke negeri itu sangat terbatas, antara lain A. Rivai, Hoesein Djayadiningrat dan Sam Ratulangie. Sehabis perang dunia I, arus siswa yang beajar ke Belanda semakin besar. Mereka masuk ke berbagai jurusan studi, seperti hukum, indologi, kedokteran, sastra, teknik, ekonomi dan lain-lain. Konsentrasi pelajar ada di kota-kota Universitas, terutama di Leiden.
4. Gerakan Modern Islam Dan Pembentukan Nasionalisme Keindonesiaan
Kemudian transportasi dan komunikasi meningkatkan frekuensi dan volume orang naik haji, suatu proses yang telah berlangsung sejak bagian kedua abad ke-19. Revivalisme agama sebagai dampaknya terwujud dalam pertumbuhan pesantren dan tarekat bagaikan cendawan di musim hujan. Lagi pula dalam banyak gerakan protes nada religius sangat menonjol, sedang kepemimpinan banyak di pegang oleh elit religius, seperti kiyai, haji, guru tarekat dan sebagainya.
Gerakan-gerakan sebagai tindakan kolektif yang reaktif terhadap kehadiran keluasan kolonial beserta proses terhadap kehadiran kekuasaan kolonial beserta proses westernisasi ataupun modernisasi yang menyertai itu, kesemuanya bersifat tradisionalistik. Mengingat konteks sosio kultural, dimana gerakan-gerakan itu terjadi yaitu yang bersifat pedesaan, komunal dan tertutup, wajarlah apabila jawaban terhadap perubahan-perubahan itu tradisionalistik, lokal dan sangat pendek umurnya. (Kartodirdjo: 1999: 117).
Sikap reaktif di lingkungan umat Islam dalam menghadapi peradaban sosial dalam abad ke-20, terutama seperti manifestasinya di kota-kota, menciptakan gerakan-gerakan dan lembaga-lembaga yang berlainan sekali sifatnya yang lazim disebut modernis.
Pada awal abad 20, bermunculan lembaga-lembaga atau organisasi yang berbasis pada gerakan modernisme, seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam, Nahdlotul Ulama, Al-Irsyad, persatuan Muslimin Indonesia, Sumatera Thowalib, Jamiat Khair, Persatuan Ulama dan sebagainya. Para reformis religius bermunculan seperti Ahmad Soekati, Hamka, Haji Agus Salim, Guru Hasan, KH. Ahmad Dahlan, Muhammad Natsir, Cokroaminoto, Abikoesno dan sederajat nama besar lainnya.
Dengan gagasan-gagasan modernisme, mereka memformulasikan kesadaran tentang struktur kebangsaan atas dasar nasionalisme religius, seperti yang diungkapkan oleh Natsir ketika berpolemik dengan nasionalis tulen, Soekarno (Noer, 1987: 314) sebagai umat mayoritas, gerakan modern Islam itu mewarnai corak perjuangan bangsa, secara keseluruhan hal itu ditandai dengan dimasukannya instrumentasi kepercayaan terhadap tuhan sebagai dasar bangunan negara-bangsa pasca kemerdekaan.













BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah merefleksikan perlawanan bangsa Indonesia yang sangat panjang, setelah 3,5 abad, terhadap kekuasaan kolonial Belanda, maka penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Fase perjaungan yang sangat panjang bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda dapat diklasifikasikan kepada tiga priode, pertama: perlawanan di masa kekuasaan VOC (1600-1800). Kedua: perlawanan di masa Hindia Belanda (1800-1900) dan ketiga: perlawanan di masa pergerakan nasional (1900-1942).
2. Pada priode VOC, perlawanan bangsa Indonesia digerakan oleh sikap monopoli ekonomi dan hegemoni politik yang diterapkan VOC di wilayah Nusantara, serta gerakan zending, ketiga faktor tersebut mendapat tentangan dari penguasa lokal kerajaan Islam seperti Mataram, Aceh, Banjar, Makasar, Ternate Tidore, Banten, Cirebon dan beberapa kerajaan lainnya. Selain itu perlawanan terhadap VOC justru datang dari dari tokoh-tokoh yang secara politis terpinggirkan seperti Untung Suropati, Trunojoyo, Syekh Yusuf, Pangeran Purbaya dan sederet nama lainnya.
3. Sedangkan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, perlawanan dilakukan oleh tokoh-tokoh yang masih bersifat kedaerahan dan mereka memiliki ikatan kekeluargaan terhadap raja atau Sultan. Perlawanan yang digerakan selain karena sistem tanam paksa atau culture stelseel, juga intervensi kompeni dalam suksesi dalam kepemimpinan kerajaan Islam di Indonesia. Pada priode ini tokoh pejuang yang terkemuka adalah Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, pangeran Nuku, pangeran Antasari, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Panglima Polim dan beberapa tokoh lainnya.
4. Pada priode pergerakan nasional (1900-1942), arah perjuangan bangsa Indonesia mengalami pergeseran dari perjuangan fisik ke arah perlawanan non-fisik pada masa ini orientasi perjuangan melalui jalur diplomasi, aksi masa, pendidikan organisasi sosial, pendidikan dan politik, jalur modernisasi pendidikan, serta gerakan modern Islam. Tingkat pendidikan yang kian tinggi akibat politik etis Belanda di bidang edukasi, kesadaran tentang nasionalisme mulai terbentuk.
5. Perjuangan yang sangat panjang bangsa Indonesia, dan lamanya kolonialisme Belanda di Indonesia adalah politik pecah belah (devide et impera) antar penguasa dan pemisahan kerajaan yang semakin kecil. Di samping itu strategi bertempur menggunakan metode “Benteng Stelseel” (daerah yang dikuasai kompeni, dirikan pos atau benteng pertahanan).
6. Perlawanan yang bertubi-tubi dilakukan pejuang Indonesia, telah merugikan pihak Belanda, sampai membuat bangkrut VOC, meskipun ada sebab lain seperti penyelewengan dan korupsi yang dilakukan pegawai Belanda. Guna menambah kas negara gubernur jenderal Hindia Belanda menerapkan kerja rodi dan tanam paksa.

B. Saran
Pada bagian akhir penelitian ini penulis hendak memberikan saran kepada beberapa pihak seperti pemerintah, sejarahwan, guru dan generasi muda atau pelajar. Saran-saran tersebut adalah:
1. Pemerintah, hendaknya menjadikan pengalaman pahit tentang kegagalan perlawanan yang dialami pejuang pada priode kolonilisme dan imperialisme sebagai pelajaran yang berharga dalam membangun negara Indonesia yang kuat dan makmur.
2. Sejarahwan, diharapkan penelitian ini mengawali langkah penelitian yang lebih fokus pada konteks perlawanan pada setiap priode sejarah pahit di bawah kolonilisme Belanda.
3. Guru, hendaknya dapat memberikan informasi yang akurat kepada para siswa tentang sejarah perlawanan bangsa Indonesia di bawah jajahan Belanda.
4. Generasi muda atau para siswa, hendaknya mengambil pelajaran yang berharga dari semua bentuk perlawanan bangsa Indonesia, sehingga dapat memupuk semangat nasionalisme dan patriotisme.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Informasi Penelitian
1. Periode Perlawanan Bangsa Indonesia
a. Pada Masa VOC (1602-1850)
1. Kedatangan Bangsa Belanda di Indonesia 1596.
Idem
2. Kekuasaan VOC di Indonesia 1602-1799.
Idem
3. Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap VOC.
a. Mataram (1628-1757) idem
b. Banten (1651-1683) idem
c. Makassar (1634-1667) idem
d. Ternate (1635-1675)
Perlawanan rakyat Ternate dibawah komando Sultan Ternate, Hamzah yang berusaha melawan imprealisme VOC. Bangkitnya perlawanan ini VOC menerapkan sistem monopoli perdagangan yang sangat merugikan rakyat Ternate.
Serangan VOC dipimpin oleh Jean Pieter Coen dengan berusaha menduduki Pulau Seram mendapat perlawanan rakyat Maluku. Apalagi tindakan VOC yang melakukan penebangan pohon cengkeh dan pala yang berlebihan, berakibat pada penderitaan rakyat. Tindakan kumpeni itu, menimbulkan kebencian yang luar biasa. Ditambahkan lagi larangan pelayaran ke Maluku oleh VOC terhadap tokoh yang dikeramatkan, Ki Panembahan Giri, membuat rakyat siap mengadakan perlawanan terhadap VOC.
Pada tahun1637, komandan Diemen berhasil merebut Lusisala, tetapi mendapat perlawanan dari tokoh legenda Ternate, Lusisala. Dengan dibantu oleh rakyat, Lusisala menjalankan konfrotasi dengan VOC melalui perjuangan gerilya, hasil panen cengkeh tidak dijual ke kumpeni.
Pada tahun1641, Kakiali mulai melancarkan serangan, yaitu pada Uring. Dengan dukungan angkatan laut Mkassar dibawah Daeng Mangoppo dilakukan tindakan ofensif terhadap Hitu Lama, suatu benteng VOC> namun, kumpeni dapat menaklukan Kapahat pada bulan Juli 1646. kumpeni juga menerapkan strategi pengepungan yang ketat, sehingga pertahanan rakyat dapat disebut oleh VOC pada tanggal 25 Juli 1546. (Kartodirjo, 1989:180).
Sepeninggal raja Hamzah, raja Mandarsahal tidak disetujui oleh rakyat, maka terjadi revolusi istana pada tanggal 31 Juli 1650. kemudian, perlawanan dibawah pimpinan Kecilio Said. Dengan dibantu oleh panglima Mazira, dilakukan serangan ke Seram selatan, Ambelen dan Manipu perjuangan juga dibantu oleh saudara Mandarshah, Manila dan Kalimta (Kartodirjo, 1999:182).
2. Pada Masa Hindia Belanda 1800-1900.
Idem
a. Pergantian Kekuasaan VOC ke Pemerintahan Belanda 1800-1900.
1. Pemerintahan Daendels 1808-1811.
2. dijiwai oleh idiologi liberal, Herman Willem Daendels menjalankan pemerintahannya dengan memberantas sistem feodal yang sangat diperkuat oleh VOC untuk mencegah penyalahgunaan kekuaan, mak hak-hak bupati mulai dibatasi, terutama menyangkut penguasaan tanah dan pemakaina tenaga rakyat.
Ada beberapa faktor penghambat gerakan liberalisasi yang hendak dilakukan oleh Daendels :
1. Masih berlakunya tanam pakss dan wajib kerja karena tidak berkembangnya golongan pedagang yang menjadi unsur utama sistem liberal.
2. Adanya kedudukan bupati yang sangat kuat dalam stuktur feodal, sehingga setiap tindakan perubahan tidak dapt berjalan tanpa kerjasama mereka.
3. Terdapat tugas yang sangat berat dalam pemerintahan Deaendels sendiri yang perlu mempertahankan pulau Jawa terhadap serangan Inggris. Pada masa Daendels dibangun sistem perhubungan di Jawa yaitu pembuatan jalan raya yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa dari Anyar sampai Panarukan. Jlan ini terkenal sebagai Jalan Raya Pos (Grote Postweg). (Kartodirjo, 1999:291).
b. Perlawanan Rakyat Indonesia Terhadap Hindia Belanda 1817-1906.
Idem
3. Masa Pergerakan Nasional
a. Politik nEtis 1901
Idem
b.Pembentukan wada Baru Perlawanan Terhadap Hindia Belanda
idem
c. Jalur Modernisasi Islam
Pembentukan MIAI
d. Petisi-petisi 1936-1939.
Kegagalan perjuangan tokoh-tokoh dan rakyat Indonesia melalaui gferakan pemberontakan dan aksi masa telah merubah strategi perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan radikal yang hendak berkonfrotasi dengan penguasa kolonial pasti menuai kegagalan oleh karena pihak yang terakhir memiliki prasarana kekerasan. Dalam menghadapi politik tangan besi de Jonge, gerakan non koperasi tidak akan menghasilkan apapun karena pelbagai tindakan reaksioner, seperti larangan diadakannya rapat-rapat umum, pengetatan pengawasan posisi rahasia dan pengawasan pers.
Oleh karena itu, dibutuhkan strategi perjuangan baru guna menghindari tidakan refresif Belanda. Strategi dan taktik yang dijalankan adalah kooperatif, bukan soal prinsip idiologi . jalan yang dapat dilakukan dalam politik kooperatif ini adalah melalui petisi.
1. Petisi Soetardjo.
Tujuan petisi ini adalah untuk membangkitkan kesaaran nasional serta gerakan-gerakan atau aksi-aksi yang dapat mengkonsolidasi solidaritas dalam dan antar partai. Pada tanggal 15 Juli 1936, Soetardjo Kartohadikoesoemo sebelum wakil dari Dewan Rakyat (DR) mengajukan usul petisi kepada pemerintah Hindia Belanda agar diselenggarakan suatu konfrensi kerajaan Belanda, dimana dibahas status politik Hindia Belanda dalam sepuluh tahun mendatang, yaitu status ekonomi didalam batasan artikel 1 dari UUD Negri Belanda. Diterangkan bahwa suatu kerjasama antara Belanda dan Indonesia sangat dibutuhkan agar tidak merugikan kedua belah pihak. Pelbagai pengalaman dalam tahun-tahun sebelumnya banyak menimbulkan kekecewaan, kegelisahan dan sikap acuh tak acuh yang tidak mendorong rakyat dalam membangun negri ini. Semangat itu dapat dimunculkan dengan penyusunan rencana yang matang tentag hubungan antara negri Belanda dan HIS dalam bidang ekonomi, sosial ,kultural dan politik sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak. (Karodirjo, 1999:182).
Petisi itu juga ditandatangani oleh I.J. Kasimo, Sam Ratulangi, Datoek Toemenggoeng dan Kwo Kwat Tiong-Rumusan petisi itu bernada sengat moderat yang sungguh mencerminkan tidak hanya jiwa kooperatif tetapi juga sikap hati-hati dengan memakai langkah yang legal dantidak keluar dari kerangka konstitusional.
Reaksi petisi Soetirdjo beragam pendapat, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Namun, dalam pemungutan suara di Dewan Rakyat akhirnya 26 setuju 2an 20 melawan, sehingga petisi dapat diteruskan ke negri Belanda. Dapat diduga bahwa petisi itu tipis kemungkinannya untuk diterima Dewan Perwakilan Belanda. (Kartodirjo, 1999:183).
2. Petisi GAPI “Indonesia Berpalemen”.
Pada umumnya mendeskripsikan petisi dengan sebutan aksi. GAPI atau gabungan politik Indonesia yang dibentuk atas inisiatif M. Husni Thamrin pada rapat umu digedung permufakatan Gang Kenari, Jakarta tanggal 21 Mei 1939. GAPI adalah koalisi organisasi dan partai politik yang terdiri dari parindra (Partai Indonesia Raya), PSSI (Parati Serikat Islam Indonesia), PII (Partai Islam Indonesia), Gerindro (Gerakan Rakyat Indonesia). Tokoh-tokohnya antara lain Thamrin (Parindra), sukimn (PSSI), H.A. Agus Salim dan Moh. Yamin (Gerindo), H. Mansoer dan Wiwoho (PII) dan sederet tokoh lainnya. (Kartodirjo, 1999:186).
Program GAPI mulai dilaksanakan secara kongkret dalam rapatnya pada tanggal 4 Juli 1939. diputuskan untuk mengadakan Kongres Rakyat Indonesia yang akan memperjuangkan penentuan nasib bangsa Indonesia sendiri serta kesatuan dan persatuan Indonesia.
Aksi-aksi yang diselenggarakan GAPI beruparapat-rapat umum kian gencar setelah mendengar kabar pemerintah Hindia Belanda terancam kedudukan akibat pecah perang dunia II. Dalam pernyataan pada 19 September 1939, GAPI menyerukan agar dalam keadaan penuh bahaya dapat dibina hubungna dan kerjasama yang saling menguntungkan antar Belanda dan Indonesia dengan cara memperhatikan aspirasi rakyat Indonesia. Apabila Belanda memenuhi tuntutan itu, maka GAPI akan mengerahkan rakyat untuk membantu Belanda.
GAPI mengadakan aksi yang pertama ialah rapat umum yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 1 Oktober 1939. rapat kedua di Solo tanggal 23 Oktober. Di Solo aksi-aksi GAPI ada tindakan GNI (Golongan Nasional Indonesia), salah satu anggota GAPI menyampaikan petisi kepada Badan Perwakilan Belanda (Staten-General) untuk memberi sesuatu parlemen kepada Indonesia.
Petisi ini didukung oleh GAPI sepenuhnya , sehinga dimana-mana diadakan rapat cabang salah satu anggota GAPI dalam rangka aksi “Indonesia Berpalemen”.
Gerakan Indonesia Berpalemen mencapai puncaknya pada bulan Desember 1939 yang diselenggrakan oleh GAPI, kemudian meresmikan Kongres Rakyat Indonesia (KRI). Tujuannya adalah meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan rakyat. Diputuskan pula untuk meneruskan gerakan “Indonesia Berpalemen” serta menyadarkan akan pentingnya pembentukan tata negara demokratis di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar